0
Thumbs Up
Thumbs Down

8 Fakta Di Balik Pola Asuh Anak Ala Orang Jepang

Japanese STATION
Japanese STATION - Fri, 29 Jan 2021 20:20
Dilihat: 113

Pola asuh anak yang di Jepang cukup berbeda apabila dibandingkan dengan pola asuh anak di negara-negara lain. Orang Jepang tidak memanjakan anak-anak mereka, tetapi melatih anak-anak mereka untuk mandiri sejak kecil. Orang Jepang juga lebih menekankan pada standar moral yang tinggi. Kejujuran, kerendahan hati, sopan-santun, dan kepercayaan menjadi pondasi utama dalam budaya mendidik anak di Jepang. 

Maryanne Murray Buechner, seoarang penulis majalah TIME mengungkap fakta-fakta terkait pola asuh anak yang dilakukan oleh orang Jepang. Inilah hasil pengamatan Buechner setelah tinggal di Tokyo selama 6 tahun.

Anak Dilatih Untuk MandiriAnak SD Jepang (zenpop.jp)

Anak-anak di Jepang dilatih untuk menjadi mandiri. Misalnya, orangtua di Jepang tidak mengantar atau menemani anak-anak mereka saat berangkat ke sekolah. Anak-anak di Jepang sering berangkat ke sekolah sendiri atau bersama teman.

“Tingkat kriminalitas di Jepang sangat rendah sehingga aman...” tulis Buechner.

Orangtua Tidak Membicarakan AnakIlustrasi ibu-ibu sedang berbincang-bincang (counselingservice.jp)

Biasanya, banyak orangtua yang saling berbagi cerita atau masalah keluarga dengan orang lain. Namun, orangtua di Jepang berbeda. Buechner menemukan fakta bahwa orang Jepang menceritakan masalah mereka hanya kepada orang terdekat atau orang yang sangat mereka percayai.

Orang Jepang menganggap bahwa membicarakan aktivitas anak mereka sebagai hal yang buruk. “Hanya sekedar menyebutkan bahwa anak anda bergabung dengan tim sepakbola atau belajar di akademi tersebut, anda bisa dianggap sebagai orang yang sombong.” tulis Buechner.

Mengutamakan Kedekatan Emosional Dan FisikMariko Shinoda menggendong anaknya (.instagram.com/shinodamariko3)

Meskipun orangtua di Jepang menyukai pola attachment parenting, mereka tidak menunjukkan kasih sayang mereka di depan umum.

“Para ibu di Jepang biasanya menggendong anaknya kemana saja mereka pergi dengan tangan ataupun menggunakan baby carrier. Menggendong bayi saat berada di sekitar rumah, saat pergi ke toko, bahkan saat bersepeda di kota. Kedekatan fisik di berbagai situasi ini menunjukkan bagaimana kasih sayang mereka diekspresikan. Tetapi tidak ada ciuman atau pelukan.” tulis Buechner. Buechner juga bercerita saat ia berada di Nagano, ia melihat seorang ayah bermain ski sambil menggendong bayinya di punggung.

Selain itu, sebagian besar orangtua di Jepang tidur bersama anak-anak mereka. Ayah dan ibu tidur di bagian samping, sementara anak-anak di bagian tengah. Kebiasaan ini berlangsung sampai anak mereka melewati masa prasekolah. “Dan, anda akan melihat ibu-ibu mengajak anak mereka yang masih kecil untuk berendam bersama di pemandian umum (onsen). Orang Jepang menyebut ini sebagai “skinship”, semua orang tidak mengenakan pakaian sehelai benang pun saat berendam di onsen.” tambah Buechner.

Anak Belajar Mengendalikan DiriIlustrasi seorang anak (news.yahoo.co.jp)

Selama enam tahun di Tokyo, Buechner juga menemukan fakta bahwa elemen penting dalam pola asuh anak di Jepang adalah pengendalian diri.

Sejak dini, orangtua di Jepang mengajarkan anak-anak mereka untuk menjaga kedamaian dan keharmonisan dalam keluarga, termasuk dalam lingkungan sekitar. Meskipun itu berarti mereka tidak mengekspresikan kegelisahan ataupun kemarahan.

“Dimanapun saya berada baik di restoran, museum, tempat perbelanjaan, penyeberangan jalan yang ramai, anak-anak di Jepang terlihat tenang dan mampu mengendalikan diri. Berbeda dengan anak-anak saya yang saling berdesakan dan berlari melewati nenek-nenek yang berjalan dengan tongkat...” tulis Buechner.

Masih ada fakta lainnya, lho. Penasaran? Yuk baca halaman selanjutnya!

Ibu Menyiapkan Bekal Makan SiangIlustrasi ibu membuat bekal makan siang (hoikutizu.jp)

Sebagian besar ibu yang tinggal di perkotaan biasanya sibuk dan cenderung memberikan makanan yang mudah dimasak untuk anak-anak mereka. Sementara, ibu-ibu di Jepang mengatur dan memperhatikan makanan dengan cermat, terutama untuk bekal makan siang anak-anak mereka di sekolah.

Buechner menuliskan bahwa ibu-ibu di Jepang harus bangun lebih awal dari anggota keluarga yang lain untuk menyiapkan makanan atau lauk yang beragam. Selain makanan yang sehat dan bergizi, ibu-ibu di Jepang juga harus memastikan bahwa makanan yang mereka masak itu berwarna-warni agar anak mereka tertarik untuk memakan semua makanan yang ada.

“Ibu-ibu di Jepang menetapkan standar yang tinggi untuk bekal makan siang anak-anak mereka. Bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan sehat yang terlihat lucu. Ikan, sayuran, tahu, rumput laut, dan onigri dibentuk menyerupai binatang atau tanaman.” tulis Buechner

Tidak Ada Hal Yang “Sesuai Dengan Anak-anak”Ilustrasi seorang anak menutup mata (comona.jp)

Negara-negara lain memiliki sertifikasi “khusus untuk dewasa” sebagai peringatan ketika akan menonton sebuah film. Anehnya, para orangtua di Jepang tidak menganggap seksualitas atau kekerasan sebagai hal yang tidak layak untuk ditonton oleh anak-anak.

“Di Tokyo, tidak ada orang yang terlihat bingung atau terganggu ketika trailer film Resident Evil ditayangkan tepat sebelum penayangan film Toy Story 3 di bioskop. Senjata mainan yang terlihat mirip dengan senjata asli masih dijual di toko-toko mainan. Bahkan, terdapat banyak gambar berbau seksual di komik-komik," tulis Buechner

Orangtua Turut Menjaga AlamIlustrasi ibu dan anak bermain di taman (select.mamastar.jp)

Karena budaya pola asuh anak di Jepang adalah tentang kedisiplinan dan kedekatan, orangtua di Jepang juga mempratikkan nilai-nilai yang sama ke hal-hal yang berkaitan dengan alam. Melakukan hanami di taman memang diperbolehkan, tetapi anak-anak yang bermain atau berlarian saat hanami diawasi dengan ketat. Mengejutkan, bukan?

Buechner menulis, “...Taman dan kebun telah dirancang dengan indah dan dikelola dengan susah payah. Oleh karena itu, orangtua akan mengontrol dengan ketat dimana dan kapan anak-anak mereka bisa bermain atau berlarian.”

Orangtua Menceritakan DongengIlustrasi orangtua membacakan dongeng ke anaknya (toyokeizai.net)

Selama bertahun-tahun tinggal di negeri matahari terbit, Buechner menemukan fakta lainnya yaitu, orang Jepang suka untuk bercerita tentang legenda ataupun mitos ke anak-anak melalui dongeng yang menarik.

“Bercerita tentang legenda yang ada di Jepang merupakan hal yang umum atau sudah biasa di Jepang. Di sepanjang tahun ada banyak festival yang diadakan. Misalnya, Tengu Matsuri untuk menghormati Goblin si hidung panjang, dan Setsubun, hari untuk mengusir Oni si ogre dengan melemparkan segenggam kacang kedelai," tulis Buechner.

Nah, sekarang kalian sudah tahu fakta-fakta tentang bagaimana orang Jepang membesarkan atau mendidik anak mereka. Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik untuk menerapkan pola asuh anak yang sama dengan orang Jepang? Adakah yang cocok dengan pola asuh di Indonesia?

PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip