0
Thumbs Up
Thumbs Down

Budaya Corat-coret Usai Ujian Sekolah, Ekspresi Kebebasan atau Rendahnya Moral?

okezone
okezone - Mon, 15 Apr 2019 14:00
Dilihat: 53
Budaya Corat-coret Usai Ujian Sekolah, Ekspresi Kebebasan atau Rendahnya Moral?

MOMEN kelulusan sekolah menjadi salah satu momen yang paling diingat. Di momen itu, Anda merasa semua beban yang dipikul selama sekolah lepas dan Anda siap untuk melanjutkan hidup yang dianggap lebih menyenangkan.

Di momen kelulusan itu, anak muda di Indonesia kebanyakan akan melakukan corat-coret seragam sekolah, konvoi, hingga beberapa di antaranya melakukan aksi tawuran sebagai bentuk kebebasan. Budaya ini seperti mendarah daging, selalu ada di setiap tahunnya dan tindakan tegas pun terus dilakukan tapi sepertinya tidak melunturkan "warisan" generasi sebelumnya itu.

Melihat fenomena ini, Psikolog Diana Rohayati, M.Psi, menjelaskan kalau aksi corat-coret ini memang bentuk kebebasan yang dilampiaskan secara sadar oleh remaja dan ini adalah tindakan yang salah!

Baca Juga: Tak Hanya Lihai Memasak, 5 Chef Ini Terlihat Seksi dengan Tato di Tubuhnya

"Bebas dari hambatan yang dalam hal ini berhasil melalui ujian akhir yang dianggap hasil belajar selama 3 tahun sekolah penuh tugas, tentu menimbulkan perasaan luar biasa menyenangkan. Perasaan ini biasanya diluapkan dengan cara corat-coret seragam sebagai ekspresi kebebasannya pada saat kelulusan. Perilaku tersebut sering kali dibiarkan oleh orangtua dan sekolah karena dianggap hanya corat-coret baju dan ini bukanlah hal yang membahayakan dan cukup wajar dilakukan ketika mreka berhasil melalui tahap yang penuh kecemasan dan ketegangan," terang Diana pada Okezone melalui pesan singkat, Senin (15/4/2019).

Hal ini menurut Diana menimbulkan perilaku yang diulang dan pada akhirnya menjadi 'budaya' turun temurun. Padahal jika dilihat, banyak perilaku yang menyertai corat-coret baju ini, seperti konvoi dan ugal-ugalan di jalan raya yang tidak jarang menyebabkan kecelakaan.

Bahkan tidak jarang juga disertai tindakan asusila, spt merobek baju siswa perempuan hingga terlihat auratnya atau malah melakukan hubungan intim bagi pasangan remaja. Pemaknaan kebebasan dan ekspresinya yang menjadi budaya turun temurun di sini tentu sudah berlebihan dan sangat tidak sesuai dengan kaidah yang kita percaya.

Terlihat di sini, moral yang ada bisa jadi tidak tertanam dengan baik atau dipersepsi salah, di mana menurut Chaplin (2006), moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yg mengatur tingkah laku.

"Jika terus dibiarkan, maka tidak heran jika perilaku para remaja tersebut menggambarkan rendahnya nilai moral yang dimiliki, karena menganggap perilaku tersebut wajar-wajar saja untuk dilakukan dan sudah menjadi 'warisan' dalam merayakan kelulusan," tegas Diana.

Dia menambahkan, remaja dengan kegalauannya yang masih tersisa antara sudah keluar dari masa anak-anak, sudah merasa besar, namun belum cukup matang untuk menjadi dewasa, tentu masih memerlukan pengawasan dan pengarahan agar nilai-nilai moral dapat tertanam dengan baik, sehingga ekspresi kebebasan dapat diluapkan dengan cara yang benar serta tidak menjadi ekspresi yang kebablasan.

Baca Juga: Insiden Bulu Mata Palsu Lita MasterChef Indonesia Copot Bikin Ngakak

"Ekspresi kebebasan bisa ditunjukkan dengan cara yang lebih bermakna. Misalnya dengan memanfaatkan seragam yang ada, siswa bebas memodifikasi seragamnya menjadi lebih menarik atau menjadi barang lain (misal tas), di mana barang ini berpotensi untuk dipakai lebih lama dan lebih berguna dibanding hanya menggantung di lemari yang ujung-ujungnya hanya akan dibuang. Jika "barang baru" tersebut digunakan oleh orang yang membutuhkan, bukankah kesenangan akan lebih terasa?" saran Psikolog Diana.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip