0
Thumbs Up
Thumbs Down

Fobia Pipis di Toilet Umum Ternyata Ada, Kenali Gejalanya

okezone
okezone - Fri, 30 Nov 2018 14:01
Dilihat: 274
Fobia Pipis di Toilet Umum Ternyata Ada, Kenali Gejalanya

DI kantor, mungkin kamu pernah mengalami rasa tidak nyaman saat berada di satu toilet dengan rekan kerjamu--atau lebih parah lagi, manajermu. Bahkan rasa tidak nyaman ini hingga memengaruhi niat Anda yang tadinya ingin buang air kecil justru mengurungkannya.

Rasa tidak nyaman yang kamu rasakan bisa saja merupakan rasa takut, malu, cemas, atau mungkin campuran ketiganya. Beberapa orang mungkin merasakan rasa tidak nyaman yang lebih parahbahkan bisa saja sudah menjelma menjadi sebuah fobia.

Dilansir dari health.com pada Jumat (30/11/2018), sindrom ini terdaftar sebagai fobia sosial dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) edisi terbaru. Fobia ini bernama paruresis atau yang dikenal sebagai shy bladder syndromeyang berarti ketidakmampuan untuk pipis dengan keberadaan orang lain.

Potret Manis Alleia Anata, Anak Gadis Ariel "NOAH" yang Lagi Jadi Sorotan

Steven Soifer, PhD, CEO dari International Paruresis Association menyebutkan bahwa 7% dari populasi orang Amerika (berarti sekitar 20 juta orang) mengalami paruresis dan orang-orang tersebut benar-benar tidak bisa pipis di depan orang lain. Sebanyak 22% orang yang mengidap shy bladder syndrome juga mengidap gangguan kecemasan sosial.

Berikut beberapa hal yang harus kamu tahu apabila kamu mengidap shy bladder syndrome:

Apa itu paruresis?

Menurut Soifer, yang juga merupakan kepala departemen sosial di Universitas Mississippi, paruresis adalah semacam kecemasan saat kamu membuang air kecil.

"Dalam situasi sosial, ada orang yang kesulitan bahkan tidak bisa mengeluarkan urin dengan adanya kehadiran orang lain. Bahkan jika ada penjahat yang menodongkan pistol di kepalanya dan mengancam 'pipis atau mati', ada kemungkinan orang itu tetap tidak bisa pipis." ujar Soifer.

Soifer juga menambahkan bahwa banyak orang yang tidak mengerti akan hal ini kecuali dia mengenal seseorang yang mengalami kesulitan pipis ini atau bahkan dia sendiri yang mengalaminya.

Bahkan banyak dokter yang masih belum paham akan sindrom ini dan mengusulkan saran tidak berguna seperti 'minumlah banyak air agar kamu bisa pipis'. Padahal orang dengan paruresis tetap tidak akan bisa pipis. Beberapa penderita mungkin menahan pipis mereka terlalu lama sehingga berakhir di rumah sakit.

Jelas saja, hal ini sangat mengganggu bagi mereka yang sering ke toilet publik. Soifer pernah bekerja dengan orang yang tidak bisa pipis selama perjalanan kerja satu malam atau orang yang baru saja putus karena pacarnya tidak mengerti kenapa dia tidak mau traveling. Soifer sendiri juga pernah menahan pipisnya selama 16 jam perjalanan kereta dari Paris ke Madrid. "Pintu toiletnya tidak mau terkunci di kereta dan banyak orang yang duduk di luar pintu toilet. Tidak mungkin aku bisa pipis di sana." Soifer pun mengaku baru sembuh dari paruresis setelah 20 tahun.

Rasa tidak nyaman yang diakibatkan oleh paruresis membuatnya berbeda dari fobia sosial yang lain. "Kamu mungkin akan mengalami gejala kecemasan fisik dari fobia pesawat atau elevator, tapi bukan rasa sakit."

Gejala utama lainnya adalah kecemasan secara terus-menerus karena memikirkan dimana kamu akan pipis selanjutnya. Pikiran ini cenderung jadi obsesif: "Dimana aku bisa pipis, apakah ada orang yang mendengar atau melihatku (saat pipis)," ujar Soifer.

Menurut Soifer, dari sekian banyak orang yang ia rawat, hanya segelintir yang mengingat kejadian spesifik yang mengakibatkan mereka tidak bisa pipis di publik. Memang jarang ditemukan, tapi ini bisa berawal dari kekerasan seksual atau trauma, bisa juga merupakan akibat dari bullying di sekolah. Beberapa orang juga mengalami paruresis setelah operasi, ketika suster meminta mereka untuk pipis sebelum mereka pulang. "Hal itu bisa sangat mengganggu ketika seorang suster membawamu ke toilet dan menunggu di luar pintu," ungkap Soifer.

Soifer pun juga menyebutkan bahwa 90% penderita yang mendaftar untuk pemulihannya adalah laki-laki.

Bagaimana cara mengatasi shy bladder syndrome?

Belum ada penelitian tentang bagaimana merawat paruresis, tapi para ahli percaya bahwa terapi perilaku kognitif dapat menyembuhkannya.

Terapi acceptance and commitment, tipe lain dari psikoterapi, mungkin juga bisa bermanfaat. Selain itu, pengobatan anti-anxiety mungkin juga bisa berperan. Terapi-terapi itu memang tidak bisa membuat para pengidap paruresis langsus pipis, tapi terapi ini bisa mengurangi rasa malu dan cemas.

Sekarang ini, kesadaran tentang paruresis mulai berkembang-Soifer mengungkapkan mungkin akan butuh waktu bertahun-tahun agar shy bladder syndrome dapat diterima sebagai syndrome yang umum.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip