0
Thumbs Up
Thumbs Down

Keagungan Motif Parang Hingga Dilarang di Pernikahan Kaesang dan Erina

okezone
okezone - Sat, 10 Dec 2022 08:52
Dilihat: 290

TAMU undangan pernikahan Kaesang dan Erina dilarang mengenakan kain motif parang. Aturan tersebut berlaku dengan tegas. Artinya, jika tamu undangan nekat datang mengenakan kain batik bermotif parang, dipastikan ditolak masuk ke lokasi acara.

Kaesang Pangarep sendiri yang menjelaskan aturan ini. Menurutnya, kain motif parang tidak boleh sembarangan dikenakan di area Pura Mangkunegaran, mengingat motif tersebut hanya boleh dipakai oleh raja dan ksatria kerajaan.

"Yang boleh pakai motif parang kan hanya Kanjeng Gusti, yang lain kan rakyat biasa, ya, pakai batik pada umumnya," kata Kaesang pada awak media, beberapa waktu lalu saat mengunjungi Pura Mangkunegaran.

"Kalau kelupaan dan masih pakai batik parang, di depan (Pura Mangkunegaran) ada banyak toko batik, jadi silahkan beli," tambahnya.

Aturan larangan mengenakan kain batik parang ini pun sempat menghebohkan publik. Padahal sudah jelas bahwa itu terkait dengan aturan yang berlaku di area Pura Mangkunegaran, lokasi resepsi pernikahan Kaesang-Erina.

MNC Portal coba mendalami soalan motif parang ini. Diterangkan Desainer Motif Batik dan Penggiat Batik Tulis Pewarna Alami, Agnes Dwina Herdiasti, motif parang punya kedudukan tinggi di Tanah Jawa.

Motif parang, kata Agnes, masuk dalam kategori motif larangan di lingkup keraton Solo maupun Yogyakarta. Artinya, hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarga, serta kerabatnya.

"Itu pun ada aturan ketatnya tersendiri," kata Agnes melalui pesan singkat, Sabtu (10/12/2022).

"Besar kecilnya bidang parang menentukan status atau kedudukan seseorang di lingkup tersebut. Jadi tidak ada yang boleh menyamai apalagi melebihi ukuran parang seorang raja, demikian berlaku untuk strata di bawah raja," tambahnya.

Agnes juga menjelaskan bahwa parang itu sendiri berasal dari kata 'prng' yang berarti tebing, polanya garis-garis diagonal 45 derajat. Sudut 45 derajat pun kata Agnes punya makna filosofis.

Adalah sudut sakral karena menunjukkan perjuangan seorang pemimpin dari dasar, bertirakat yang diibaratkan menaiki bukit menuju puncak gunung (manunggaling kawula Gusti), untuk kemudian membawa wahyunya turun demi kemakmuran rakyatnya.

"Parang tercipta dari perjalanan tirakat panjang Danang Sutawijaya di tebing pantai selatan sebelum akhirnya memulai babad alas Mentaok yang mengawali berdirinya kerajaan Mataram. Danang Sutawijaya kemudian bergelar Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram," tutur Agnes.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip