0
Thumbs Up
Thumbs Down

Mantan Kepala CDC Sebut Vitamin D Bisa Kurangi Risiko Terinfeksi Virus Corona

okezone
okezone - Wed, 25 Mar 2020 13:05
Dilihat: 28
Mantan Kepala CDC Sebut Vitamin D Bisa Kurangi Risiko Terinfeksi Virus Corona

Saat ini, para ilmuwan tengah berpacu dengan waktu untuk mengembangkan perawatan dan vaksin yang efektif melawan virus corona (COVID-19). Beberapa waktu lalu, mantan Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dr. Tom Frieden juga sempat mengeluarkan pernyataan bahwa risiko kematian akibat infeksi virus corona dapat ditekan dengan Vitamin D.

Bukan tanpa alasan. Sejak virus corona merebak, sejumlah ilmuwan mengklaim tingkat kematian COVID-19 cenderung lebih tinggi pada pasien berusia lanjut, dan orang-orang yang memiliki penyakit penyerta (Komorbid). Sementara bagi pasien dengan imunitas tubuh yang baik, tingkat kematian dilaporkan cenderung lebih rendah.

Klaim-klaim tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi yang kini telah berkembang di masyarakat. Salah satunya tentang penggunaan Vitamin D dalam memperkuat imunitas atau sistem kekebalan tubuh. Terkhusus bagi individu dengan kadar Vitamin D yang rendah.

Melansir laman Foxnews, Rabu (25/3/2020), suplemen vitamin D dikatakan dapat mengurangi infeksi pernapasan, mengatur produksi sitok, dan dapat membatasi risiko virus lain seperti influenza.

Seperti diketahui, infeksi pernapasan dapat memicu terjadinya badai sitokin, atau kondisi di sel-sel inflamasi merusak organ di seluruh tubuh. Hal inilah yang meningkatkan risiko kematian pada penderita COVID-19.

Vitamin D kemudian muncul sebagai alternatif untuk melindungi mereka yang rentan terserang oleh virus tersebut. Menariknya, data terakhir yang dikeluarkan CDC< lebih dari 40% orang dewasa di Amerika Serikat dinyatakan kekurangan Vitamin D.

Buktinya bisa dilihat dari jumlah pasien atau korban jiwa yang terpapar penyakit musiman seperti influenza dan TBC. Mereka diduga rentan terserang penyakit tersebut karena tidak mendapatkan suplai Vitamin D yang cukup. Salah satu faktornya disebabkan oleh minimnya sinar matahari di kala musim dingin tiba.

Sementara di negara-negara tropis seperti India, para ilmuwan mengklaim mungkinan terjadinya penyakit musiman ini sangat kecil. Pasalnya, cuaca dan paparan sinar matahari di negara tersebut cenderung konstan sepanjang tahun.

"Ketika saya bekerja di India dari tahun 1996-2002, saya meminta CDC mengirim petugas intelijen epidemi untuk menyelidiki kemungkinan tersebut. Dan dr. Lorna Thorpe, pemimpin utama penelitian itu mengatakan daerah di selatan negara itu memang memiliki cuaca panas sepanjang tahun. Kasus penyakit musimannya pun terbilang rendah," ujar dr. Tom Frieden.

Kendati demikian, Tom belum dapat memastikan apakah kekurangan Vitamin D dapat membuat memperparah kondisi seseorang saat terpapar COVID-19. Namun, mengingat tingginya angka prevalansi kekurangan Vitamin D di Amerika Serikat, dia menganjurkan masyarakat untuk meminum suplemen atau mendapatkan suplai Vitamin D sesuai dengan dosis anjuran dokter.

Cara paling sederhana adalah dengan memproduksi Vitamin D kulit melalui bantuan sinar matahari. Cukup berjemur di bawah sinar matahari langsung sekitar 15 menit sehari untuk memproduki Vitamin D yang cukup untuk tubuh.

Perlu diingat, individu dengan warna kulit yang lebih gelap membutuhkan paparan sinar matahari yang lebih lama untuk mendapatkan suplai Vitamin D yang sama.

Selain itu, beberapa makanan juga diklaim dapat membantu tubuh dalam memenuhi Vitamin D. Misalnya kuning telur dan ikan berlemak seperti salmon.

"Selama hampir satu abad, para ilmuwan juga telah menambahkan Vitamin D ke dalam susu. Awalnya untuk mengurangi rakhitis. Itulah sebabnya kebanyakan anak-anak tidak mengalami defisiensi Vitamin D," tandas Tom.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip