0
Thumbs Up
Thumbs Down

Sisi Gelap dan Permasalahan Sistem Pendidikan di Jepang

Japanese STATION
Japanese STATION - Wed, 14 Apr 2021 16:19
Dilihat: 61

Jepang mungkin merupakan salah satu negara di Asia yang paling popular sebagai tujuan untuk studi. Memang, sistem pendidikan dan teknologi di negeri matahari terbit ini terbilang bagus dan superior jika dibandingkan dengan negara Asia lain. Kendati demikian, sistem pendidikan di Jepang juga tak bisa disebut sempurna karena tentu memiliki beberapa sisi gelap dan permasalahan di dalamnya. Apa saja? Berikut daftarnya.

1. Kurangnya persaingan antar penyedia edukasi

Siswa tentu memiliki karakter yang berbeda, karena itulah, secara teori, edukasi pun harus beragam dan kompetitif. Sayangnya, taka da hal semacam itu di Jepang. Keragaman buku cetak dan material lainnya terbatas, belum lagi, pengembangan material dan metode edukasi baru Jepang yang jauh dari yang diharapkan.

2. Perang ujian masukSiswa-siswi yang tengah mengikuti ujian (pixta)

Kini, masalah utama yang dihadapi para siswa SMP Jepang adalah kecemasan yang berhubungan dengan ujian masuk SMA. Kebanyakan dari mereka pergi menuju tempat les, bahkan, beberapa dari mereka belajar di beberapa tempat les sekaligus. Tak hanya itu, anak-anak yang lebih muda pun terpengaruh dengan ujian masuk tersebut. Sedikit abnormal kan jika seorang siswa SD baru sampai di rumah pada pukul 10 malam setelah mengikuti les? Sebuah survei juga menunjukkan bahwa 27% dari siswa SD dan 64% siswa SMP Jepang merasa kelelahan akibat keseharian mereka.  Ya, perang ujian masuk ini mencegah anak-anak tumbuh dengan “baik,” membuat masa depan mereka bisa “suram.”

3. Risiko pengaturan edukasi nasional

Karena badan pemerintah yang memutuskan konten edukasi, jika badan tersebut berbuat salah, seluruh sekolah akan kena getahnya.  Risiko ini dapat dihindari jika kebijakan untuk membuat konten edukasi dapat ditransfer ke pemerintah lokal atau sekolah swasta dan sebuah sistem edukasi baru dapat dicoba secara lokal lalu disebarkan sebelum Kementerian Pendidikan membuat keputusan nasional.

4. Sistem pendidikan Jepang menolak adanya perbedaanSiswi SMP (pakutaso.com)

Siswa yang memiliki hasil lebih baik dalam bidang akademis biasanya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan lebih cepat di AS, karena  absennya kurikulum nasioal membuatnya memungkinkan. Jepang memiliki sistem edukasi yang diatur oleh kurikulum nasional dan jika seorang siswa diizinkan untuk naik ke tingkat lebih tinggi dengan durasi lebih cepat, dapat dianggap sebagai diskriminasi.  

5. Kontradiksi sistem pendidikanIlustrasi siswi SMA Jepang  (pakutaso.com)

Kementerian Pendidikan Jepang memutuskan kontek edukasi. Artinya, segala sistem edukasi yang tak disetujui oleh kementerian, tak berguna. Dalam sistem pendidikan Jepang kini, hanya melakukan apa yang disetujui kementerian dan menghindari sistem lain adalah cara terbaik untuk memasuki universitas terkenal. Aktivitas relawan dan komunitas, home education, dan berbagai cara ajar lain tak berguna. Inilah kontradiksi terbesar dalam sistem pendidikan Jepang.  Di AS, definisi edukasi lebih luas karena pemerintah pusat tak menentukan konten edukasi. Pengalaman di dunia nyara seperti part-time dan aktivitas sosial masuk ke dalam ranah edukasi di AS. Siswa SMA di Amerika diperbolehkan mengambil pekerjaan part-time, sementara siswa SMA di Jepang banyak yang tak diizinkan mengambilnya. Hasilnya, definisi edukasi pun berbeda.

6. Sistem edukasi mengganggu kebebasan edukasi dan berpikir

Deskripsi dan interpretasi dalam buku sejarah Jepang masih menjadi perdebatan. Hal ini termasuk argument terkait kependudukan militer Jepang di negara-negara Asia yang tertulis sebagai bakti sosial pada negara lain, bukan invasi militer sebagaimana kenyataannya. Namun, hingga kini tak tafsir sejarah yang meluruskan hal tersebut.

Kini, ada sekitar 1.200 juta warga Jepang yang harus hidup  dalam pandangan sejarah yang sama akibat hal tersebut.

Saat ini, sekolah-sekolah Jepang = mengajarkan pandangan sejarah  terpadu. Namun, sistem ini dapat mengganggu kebebasan pendidikan dan kepercayaan baik bagi sayap kanan maupun kiri. Pendidikan Jepang juga harus didemokratisasikan dalam hal ini.

 7. Sistem Jepang tidak mengembangkan inkonvensionalitas atau kreativitas

Baru-baru ini, negara-negara Asia mulai mengejar Jepang. Karena produk Asia yang lebih murah sering kali lebih disukai daripada produk Jepang yang mahal meski kualitasnya sama, industri Jepang harus semakin bergantung pada kreativitas dan bersikap tidak konvensional.

8. Diskriminasi sosial baru di bidang pendidikanBullying, salah satu pemicu futoko (japanbullet.com)

Tidak ada yang bisa menyangkal fakta bahwa diplomatisme Jepang menghasilkan diskriminasi sosial baru di sekolah. Tidak ada gunanya mencoba menyelesaikan masalah bullying dan penolakan sekolah kecuali beberapa langkah diambil untuk membongkar struktur diplomatisme.

Itulah sisi gelap dan permasalahan pendidikan di Jepang. Bingung juga ya?

Sumber:

My Japan Phone

Nippon.com

PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip