0
Thumbs Up
Thumbs Down

Sosiolog: Kekerasan Jadi Ajang Kompetisi, Cara Remaja Buktikan Eksistensi

okezone
okezone - Mon, 15 Apr 2019 17:20
Dilihat: 161
Sosiolog: Kekerasan Jadi Ajang Kompetisi, Cara Remaja Buktikan Eksistensi

KASUS kekerasan yang menimpa seorang remaja perempuan di Pontianak, Kalimantan Barat beberapa waktu lalu sempat mencuri perhatian masyarakat. Terlebih kasus tersebut juga viral di media sosial hingga muncul tagar #JusticeForAudrey. Namun sebenarnya hal ini bukan pertama kali terjadi dan tak sedikit pelaku kekerasan usianya masih tergolong anak-anak.

Situasi tersebut tentunya harus menjadi fokus dari orangtua. Sebab bagaimanapun cara mendidik dan mengasuh orangtua turut memengaruhi perilaku anak. Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan anak-anak bisa menjadi pelaku kekerasan?

Menurut sosiolog, Daisy Indira Yasmine, M.Si, secara sosiologi segala sesuatu yang berbeda dari norma umum memang lebih menarik, termasuk kekerasan. Di masyarakat, kekerasan adalah hal yang harus dihindari dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Akan tetapi kemudian muncul paradoks dimana semakin kekerasan dilarang, maka ketika ada 1-2 orang atau lebih yang melakukan kekerasan tindakan tersebut menjadi viral karena menarik dan dilihat orang banyak.

"Penyimpangan dari nilai utama yang dipegang oleh masyarakat adalah sesuatu yang paling mudah menjadi booming. Untuk itu harus disesuaikan dengan regulasi dari berbagai sisi," ujar Daisy saat ditemui Okezone dalam diskusi bersama Ngobras!, Senin (15/4/2019) di Jakarta.

Baca Juga:

Gaya Keren Gibran dan Kaesang Bertemu Raja Salman di Arab Saudi

Jokowi Masuk ke Kakbah, Ada Apa di Dalamnya?

Dirinya menjelaskan, untuk mencegah terjadinya kekerasan terutama yang dilakukan oleh anak bukan hanya butuh regulasi dari pemerintah. Norma umum di masyarakat harus diinternalisasi. Jadi anak tidak sekadar dilarang melakukan kekerasan tapi dijelaskan alasan dibaliknya. Contoh, dampak negatif dari kekerasan terhadap anak dan orang lain.

"Sekarang ini yang dibutuhkan anak adalah reasoning atau penjelasan mengapa dia tidak boleh melakukan hal tersebut. Orangtua tidak bisa hanya mengatakan tindakan itu boleh dan tidak boleh dilakukan," imbuh Daisy.

Sementara itu, kekerasan di antara remaja memang rentang terjadi. Hal ini masih menurut Daisy, dikarenakan di umur tersebut para remaja sedang dalam masa pencarian jati diri. Mereka menjadikan kekerasan sebagai ajang untuk berkompetisi guna menunjukkan eksistensi, kekuatan, dan dominasinya. Para remaja berpikir apabila mereka berhasil mengintimidasi orang lain, maka dirinya akan ditakuti.

"Hal ini kemudian menjadi menarik, padahal mereka enggak tahu siapa yang dirugikan dari tindakannya dan tindakan itu positif atau negatif. Terlebih sistem pendidikan di Indonesia masih tekstual, jadi enggak merangsang kognitif kritis sedari dini," papar Daisy.

Dosen sosiologi dari Universitas Indonesia itu mengatakan, ke depannya harus lebih banyak ruang-ruang positif yang bisa dimanfaatkan oleh remaja. Dengan begitu mereka menunjukkan eksistensi dan ekspresinya sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Salah satu caranya dengan mengadakan kompetisi di bidang seni.

"Bisa dibilang kompetisi seni itu masih kurang, lebih banyak fokus ke kompetisi akademik. Padahal seni itu bisa menyalurkan energi negatif yang berhubungan dengan masalah identitas, kompetisi, dan persaingan," pungkas Daisy.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip