0
Thumbs Up
Thumbs Down

Strategi Kemenpar Percepat Pemulihan Pariwisata Pasca Tsunami Selat Sunda

okezone
okezone - Thu, 10 Jan 2019 18:51
Dilihat: 164

PASCA bencana tsunami yang melanda Lampung Selatan dan Banten pada 22 Desember 2018 lalu, Kementerian Pariwisata bersama stakeholder pariwisata menyiapkan sejumlah rencana aksi untuk mempercepat pemulihan sektor pariwisata di kedua daerah tersebut.

Rencana aksi akan difokuskan untuk pemulihan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan kepariwisataan, strategi promosi destinasi pariwisata yang tidak terkena dampak, serta pemulihan destinasi pariwisata yang terdampak.

Aksi pemulihan diproyeksikan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, dimulai dari 11 Januari hingga 12 April mendatang. Lalu akan dilakukan pula program normalisasi selama 9 bulan (12 April-31 Desember 2019).

Baca Juga: 5 Potret Seksi Anya Geraldine, Bikin Hotman Paris Panas Dingin!

Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti mengatakan, masing-masing deputi di Kemenpar telah menyiapkan rencana aksi pemulihan dan akan dikoodinasikan dengan instansi terkait dan pelaku bisnis pariwisata.

(Foto: Susi Air)

"Rencana aksi ini akan dikoordinasikan dalam Rakor Strategi Pemulihan Sektor Pariwisata Pasca Tsunami Selat Sunda di Hotel Marbella Anyer pada Jumat besok, dan dibuka oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya," kata Guntur Sakti, dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Kamis (10/1/2019).

Guntur Sakti yang juga sebagai Ketua Tim Crisis Center menjelaskan, semua rencana aksi untuk mempercepat recovery pariwisata pasca tsunami Selat Sunda akan dibahas dan dikordinasikan bersama-sama dengan Pemda Banten dan Lampung serta instansi terkait lainnya, termasuk usulan dari industri pariwisata di kedua wilayah yang terkena dampak.

"Di antara rencana aksi pemulihan tersebut perlu ada relaksasi bagi industri pariwisata. Menpar Arief Yahya telah mengusulkan kepada Otoritas Jasa Keuanangan (OJK) dan pihak terkait untuk memberi relaksasi di bidang keuangan termasuk cicilan ke bank," ujar Guntur.

(Foto: Susi Air)

Baca Juga: Aura Kasih Tetap Tampil Seksi saat Hamil, Masih Rajin Pakai Tank Top

"Ini sebagai salah satu aksi yang juga dilakukan di Bali dan Lombok ketika terkena musibah bencana gempa beberapa waktu lalu," timpalnya.

Sementara itu M. Ichsanuddin, Deputi Komisioner OJK Bidang Industri Keuangan dan Non Bank (IKNB) II menjelaskan, OJK tengah mempertimbangkan kebijakan keringanan bagi para debitur terdampak bencana Tsunami Selat Sunda.

"Kemungkinan ada relaksasi. Kalau di perusahaan pembiayaan tempat kami biasanya relaksasi itu di antaranya untuk angsuran jangan ada denda dulu yang berlangsung 3 hingga 24 bulan," kata M. Ichsanuddin.

Lebih lanjut, M. Ichsanuddin mengatakan, kebijakan pemberian perlakuan khusus tersebut sebelumnya telah diterapkan terhadap kredit dan pembiayaan syariah perbankan, debitur, atau proyek yang berada di lokasi bencana alam gempa di Palu, Sulteng.

OJK telah berkoordinasi dengan Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) untuk melakukan pendataan terdapat perusahaan pembiayaan yang terkena dampak bencana tsunami Selat Sunda. Menurut data APPI per 28 Desember 2018 ada sebanyak 15.222 debitur dengan potensi kerugian sebesar Rp707,86 miliar atau sebesar 23,81% dari total piutang pembiayaan di wilayah Kabupaten Serang, Pandeglang, Lampung Selatan, Tenggamus dan Pesawaran.

"Pada umumnya kerugian itu pada aset kendaraan," kata M. Ichsanuddin.

M. Ichsanuddin menjelaskan, musibah tsunami Selat Sunda di Banten mempunyai potensi klaim asuransi sebesar Rp15,9 triliun, namun seberapa besar yang dapat direalisasikan masih dikaji oleh OJK.

"Pengalaman selama ini dari 10 daerah terkena bencana di Tanah Air, klaim asuransi terbesar terjadi di Padang mencapai 78,3% (Rp1,4 triliun terealisasi Rp1,2 triliun) dan Aceh sebesar 77% (dari Rp950 miliar terealisasi Rp746 miliar)," katanya.

Sumber: okezone
PARTNER KAMI
bintang
CENTROONE
inilahcom
Japanese STATION
Kpop Chart
LIPUTAN6
okezone
salamkorea
Sehatly
slidegossip