Ternyata Ini Alasan Masyarakat Indonesia Malas Makan Sayur dan Buah

okezone
okezone - Tue, 02 Aug 2022 15:34
Dilihat: 301
Ternyata Ini Alasan Masyarakat Indonesia Malas Makan Sayur dan Buah

MENGONSUMSI buah dan sayur bisa memenuhi kebutuhan serat dalam tubuh. Serat sendiri, dapat membantu memilihara mikroba yang digunakan untuk proses pencernaan makanan, mikroba ini juga akan memecah serat menjadi asam yang dapat merangsang aktivitas sel-sel imun.

Mengonsumsi serat pun akan membuat seseorang lebih sulit terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, stroke, penyakit jantung, dan obesitas.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan dr. Imran Agus Nurali, Sp.KO memaparkan bahwa menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, sebanyak 95,5 persen orang Indonesia masih kurang mengonsumsi buah dan sayur dengan porsi yang cukup.

"Ini (kurang makan sayur dan buah) menjadi salah satu penyebab dalam meningkatkan angka penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, stroke, jantung, dan menimbulkan obesitas juga karena kurang serat," ujar Imran seperti dilansir dari Antara.

"Dari hasil Riskesdas tahun 2018 bahkan dari tiga tahun sebelumnya, masalah kita adalah yang makan sayur dan buah masih relatif rendah, di bawah 10 persen," tambah dia.

Menurut Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya angka konsumsi buah dan sayur di masyarakat.

"Dari berbagai survei yang dilakukan di berbagai negara, kalau masyarakat kita punya persepsi makan itu kenyang, tanpa memperhatikan komposisi, seperti harus ada sayur dan buah itu kadang-kadang lupa," papar Dodik.

Faktor lainnya, lanjut Dodik adalah akses masyarakat terhadap ketersediaan buah di sekitar tempat tinggalnya. Selain itu, menyiapkan buah di meja makan dinilai tidak semudah menyiapkan lauk pauk karena buah harus segera dihabiskan setelah dikupas. Begitu juga dengan sayur yang sebaiknya segera dihabiskan setelah dimasak.

Tak hanya itu, menurut Dodik, rasa dan tekstur buah yang beraneka ragam tak selalu bisa diterima oleh lidah setiap orang terutama anak-anak. "Kalau rasanya asam atau teksturnya kasar, enggak mau makan. Itu permasalahannya mengapa tingkat konsumsinya rendah," imbuh Dodik.